'Sama'

 



10 Januari 2022. Siang itu, di sofa rumah Lia.

Setelah beberapa saat bercerita, lalu kamu bilang," Situasimu... menurutku, situasimu sebetulnya kan sama dg Mia. Maksudku, kalian sama2 belum menikah. Tapi kalian beda. Mia ada ibunya, yg menuntutnya untuk segera menikah... kalo kamu kan ga ada yg menekan, mau nikah atau engga ga ada yg ikut2 ngatur.. apalagi di rumah, kakak2mu jg santai aja ga menikah...  Meski dalam hatimu, aku yakin kamu juga pasti ada keinginan utk menikah..."

Aku tertawa tanpa suara.

Beda itu tidak sama, bambank.

Tidak ada tuntutan bagiku untuk menikah, bukan karena orangtuaku sudah tiada.. sejak ibuku masih ada, beliau sama sekali ga pernah mencoba ngatur kehidupan percintaan anak2nya. Beliau bilang, "Kalian yg menjalani, kalian yg lebih tau apa yg kalian butuhkan dan inginkan. Ibu tau apa? Kalian yg menjalani."

Keren kan, ibuku? 

Aku punya beberapa kali kesempatan menikah, Lia.

Tapi tiap kali lelaki yg dekat denganku bertanya, "Aku minta kamu ke orangtuamu saja, ya?", aku lalu... kabur.

Aku tidak percaya diri. 

Hati manusia mudah berubah. Bagaimana kalau hatiku nanti berubah? Bagaimana kalau hatinya nanti berubah?

Aku tidak berani mengambil resiko jalani dulu, lalu menyesuaikan diri kemudian. That's too risky. That's a huge inconvenience for me. 

....atau mungkin, aku sekedar tidak punya nyali. Takut kecewa. Takut mengecewakan.

Kalau hidup bersama  itu bisa dibuat test drive duluan, enak kali ya? Coba hidup bersama beberapa waktu, kalau bisa jalan ya lanjut, kalau gabisa ya udah. Ya emang udah banyak yg ngelakuin gitu ya, sayangnya lingkunganku kyknya ga bisa menerima yg semacam itu. 

Hidupku kering, katamu? Ya, namanya juga ikan kering... haha

Entahlah, Lia, Aku merasa, to some extent, aku baik2 saja.

Aku punya lelaki, Lia. Yang meski berjauhan, dia akan datang tiap aku butuh bantuan. Yang tiap hari meneleponku, video call denganku. Yang bercerita segala tentang hidupnya padaku, yang mendengarkan semua ceritaku. Yang adalah human recharger for both my body and soul. Yang ketika memeluknya, aku merasa penuh, merasa utuh. Hanya dengan memeluknya.

Yang kucintai melebihi segala apapun didunia ini. Yang sekaligus, tidak mungkin kunikahi.

Entahlah. Kurasa aku bertahan belasan tahun dengannya karena itu. Karena kami tak mungkin menikah. Kenapa? Sudah kubilang, entahlah.

Meski tak banyak, ketahuilah... tidak semua orang menjalani kehidupan dengan standar yg sama, Lia. Menikah, beranak pinak dengan segala lika-likunya, Menua dengan caranya masing2, mati entah bagaimana.

Tidak semua orang beruntung mengalami proses yg seperti itu... dan tidak semua orang tidak beruntung karena harus menjalani itu. ☺

Tapi tentu saja, semua kukatakan dalam hati saja. Haha. Aku terlalu malas menjelaskan tentang diriku dan hidupku pada orang lain. Terserah sudah, apa mau dipikir dan dikata.

Anyway, Lia, one thing's for sure...

Aku dan Mia, tidak sama.


Comments